REPOSITORI BADAN LITBANG KESEHATAN RI

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Angka Malaria di Jawa Timur

Dewi, Rita Marleta (2001) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Peningkatan Angka Malaria di Jawa Timur. Project Report. Center for Research and Development of Disease Control, NIHRD.

Full text not available from this repository.

Abstract

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih memerlukan perhatian khusus. Di Jawa-Bali meskipun telah melakukan berbagai upaya penanggulangan secara intensif selama 3 dasa-warsa akan tetapi malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama. Angka malaria (API= Annual Parasite Incidence) dalam 5 tahun terakhir (1994-1999) meningkat dari 0,68 menjadi 2,91 per 1000 penduduk. Dari data situasi malaria di Jawa-Bali tahun 1994-1999 terlihat bahwa kasus import selalu tinggi terutama untuk daerah Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali (mencapai 18%-86% dari total kasus yang ada). Hal ini diduga berkaitan dengan tingginya angka transmigran dari daerah tersebut, pekerja musiman (karena perkembangan pembangunan) dari Jawa-Bali maupun tingginya perpindahan penduduk dari dan ketempat asal. Untuk mengetahui hubungan antara kenaikan angka malaria dengan reseptifitas dan kasus import di Jawa Timur, telah dilakukan analisa besarnya masalah malaria dalam 5 tahun terakhir dari angka Monthy Parasite Insidence (MOPI), API, Malario Survey dan Survei entomologi). Di samping itu juga dilihat data mengenai kasus import dan migrasi penduduk. Di Jawa Timur terdapat 5 daerah High Case Incidence (HCI) yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Sumenep dan Banyuwangi. Pacitan merupakan daerah angka malaria dan kasus import tertinggi (API 3,16% ; 5,64% dan 4,3% dengan kasus import 96,22% ; 88,04% dan 70,23%), maka penelitian ini dilakukan di Pacitan. Selain analisa data sekunder, telah dilakukan Mass Fever Survei (MFS) di Kecamatan Tulakan yang merupakan daerah dengan kasus import lebih dari kasus indigenous, dan di Kecamatan Tegalombo dimana kasus indigenous lebih dari kasus import. Ditemukan kasus di Tegalombo lebih besar dari pada di Tulakan (50/154 atau 33,4% positif di Tegalombo dan hanya 10/36 atau 7,1% di Tulakan). Dari hasil penangkapan nyamuk dan pencarian larva, Tegalombo merupakan daerah reseptif (ditemukan tersangka vektor dan tempat perindukan yang potensial). Tersangka vektor yang ditemukan adalah An. aconitus, An. naculatus, An.subpictus, An. Sundaicus dan An. Vagus. Berdasarkan test Elisa terhadap tersangka vektor tersebut , tidak ditemukan hasil positif. Di daerah reseptif malaria, migrasi penduduk terutama dari dan ke daerah endemis malaria mengakibatkan risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) lebih besar dibanding daerah non reseptif walaupun kasus import tinggi. Dengan demikian sistem surveillans di daerah reseptif sebaiknya lebih ditingkatkan antara lain dengan penemuan kasus sedini mungkin pengobatan penderita secepat mungkin.

Item Type: Monograph (Project Report)
Uncontrolled Keywords: Malaria; API= Annual Parasite Incidence; Monthy Parasite Insidence (MOPI); Abstrak Penelitian Kesehatan
Subjects: W Medicine and related subjects (NLM Classification) > WC Communicable Diseases > WC 680-950 Tropical and Parasitic Diseases
Divisions: Center for Research and Development of Disease Control, NIHRD
Depositing User: Administrator Eprints
Date Deposited: 02 Oct 2017 05:29
Last Modified: 09 Nov 2017 03:48
URI: http://repository.bkpk.kemkes.go.id/id/eprint/1554

Actions (login required)

View Item View Item